Merelakan tidak pernah sepaket dengan mengikhlaskan. Kuatlah.

Senin, 19 Oktober 2020

Review : NYX Cosmetics Total Control Mesh Cushion Foundation ( 08 Classic Chestnut )

Pertama lihat product ini disalah satu beauty vlogger, dia merekomendasikan beberapa cushion yang bagus untuk kulit wajah yang mulus jadi lebih mulus dan yang abstrak kaya wajahku (penuh lubang, freckless, dan milia bertebaran) tertutup dengan sempurna. Product ini termasuk product yang masuk kedalam wishlistku dan bersarang begitu saja di beberapa online shop yang ku pakai karena harganya nggak sesuai dengan kantong mahasiswa pas pasan seperti ku, yang setiap hari harus makan ayam geprek, tanpa ayam (cuman pesan tahu sama sambalnya aja). Iya, biar irit. Perut bisa makan apa saja, tapi wajah kan nggak, Hhhhh,Inikah yang dinamakan lapar dalam keadaan glowing?

TA...TAPIIII MASALAHNYA AKU NGGAK GLOWIIING!!!

Back to topic... akhirnya setelah melewati puluhan purnama aku sekarang menjelma menjadi perempuan yang bisa menghasilkan uang sendiri. YEAYY!!!

Setelah menimbang waktu cukup lama akhirnya aku memutuskan untuk membeli produk NYX ini karena jujur saja aku cinta banget sama lip cream nya jadi aku merasa bahwa NYX nggak akan ngebohongin aku.

Pertama datang, NYX muncul dengan kardus yang di dominasi berwarna hitam. Elegan, mengingatkan  pada serial black swan yang baru saja kemarin aku tonton. Detail gambar cushion terletak pada sampul  kotak kardusnya.


Produk ini memiliki 10 shade warna, diantaranya:

01 Fair fair with warm undertone
02 Light light with neutral undertone
03 Warm Ivory – light medium with warm undertone
04 Shell – light medium with neutral undertone
05 Natural Beige – medium with warm undertone
06 True Beige – medium with olive undertone
07 Tan – medium with peach undertone
08 Classic Chestnut – medium deep with peach undertone
09 Almond medium deep with cool undertone
10 Honey – medium deep with olive undertone


Aku membeli shade nomor 08 Classic Chestnut, meskipun ragu apa akan cocok dengan tone kulitku, yang nyatanya.... dibawah dua tingkat dari warna kulitku hahaha (menangis dipojokan kamar). Meskipun demikian aku bisa mencampurkannya dengan liquid foundation yang lebih putih dan alhasil warnanya sesuai dengan tone kulitku. Fyuh (mengelus dada dengan tenang)

DESCRIPTION

NYX Cosmetics Total Control Mesh Cushion Foundation muncul dengan 10 shade warna yang berbeda. Aku rasa aku akan pas dengan shade shell atau warm ivory. Dibelakang kotak produk terdapat tulisan 

PAT YOUR WAY TO COMPLEXION PERFECTION.

This light-as-air formula is filtered through a unique mesh nething that seamlessly delivers medium-to-full coverage and a matte finish.

To use: Gently press the net and pat onto the skin for a soft, selfie-ready look.

LONG-LASTING WEAR . NATURAL FINISH . NON-CAKEY. COMFORTABLE. LIGHTWEIGHT

TETAPKAN CARA ANDA MENUJU KOMPLEKSI YANG SEMPURNA

Formula seringan udara ini disaring melalui jaring-jaring unik yang secara mulus memberikan cakupan sedang hingga penuh dan hasil akhir matte.

Untuk menggunakan: Tekan spons busa jaring dengan lembut dan tepuk-tepuk ke kulit untuk tampilan yang lembut, dan sekarang siap untuk selfie.

PEMAKAIAN TAHAN LAMA. HASIL ALAMI. TIDAK BERDEMPUL. RINGAN. NYAMAN



Disamping kotak produk terdapat barcode yang bisa kamu scan. Karena ada banyak sekali pemalsuan produk hal tersebut membuat kamu dapat meng-antisipasi apakah produk yang kamu beli asli atau tidak dan expired date juga tertera jelas disana.


Kamu bisa lihat daftar komposisi dari NYX Total Control Mesh Cushion Foundation ini. Base dari produk ini adalah air, jadi ditargetkan agar cocok untuk semua jenis kulit. Bagi aku yang memiliki kulit sensitif dan bernafas lega dan tersenyum karena hal tersebut. Cushion ini sendiri dibuat di Korea, well Korea memang hebat untuk segala macam produk kecantikan nggak terkecuali cushion.




PACKAGING

Seperti cushion pada umumnya, cushion NYX juga memiliki dua lapisan tempat, lapisan pertama adalah tempat untuk meletakkan puff dan yang kedua adalah isi dari cushion tersebut. Berwarna hitam pekat dan kaca, cushion selalu memiliki model yang terlihat mewah. Maybe, itu alasan mengapa produk tersebut jauh lebih mahal daripada foundation, selain komposisi yang dibuat lebih baik, packaging cushion juga di desain sedemikian rupa agar penggunanya dengan mudah mengaplikasikan dan membawanya. 





Setelah membuka segel putih, isi dari chusion cukup banyak menempel pada segel tersebut. Ternyata NYX memiliki isi produk yang melimpah ruah. Aku merasa cukup terpuaskan dengan hal tersebut.


Setelah hasilnya di swatch ke tanganku (yang lebih hitam dari wajah karena sering panas-panasan ngueng ngueng naik motor. Puhlezzz deh ini Bekasiii) warna tersebut nyaris sesuai dengan tone kulitku.


Dengan hasil pencahayaan yang memadai dari kamera ponselku, hasilnya untuk warna kulit yang sesuai dengan produk ini benar-benar luar biasa. Hasilnya bisa membuat segala dosamu tertutup, nggak deng bohong. Hahaha. Wajah dengan jerawat, milia, freckless, bopeng dan noda-noda lainnya benar-benar bisa tertutup dengan produk ini. Rasanya aku benar-benar mau sungkem. Awesomenya lagi, setelah aku basuh berkali-kali dengan air hasilnya justru semakin menyatu dengan warna kulit dan benar-benar nggak becek, sehingga ketika kamu mengenakan loose powder akan semakin membuat wajahmu terlihat jauh lebih mulus.


PURCHASE

Aku rasa aku akan repurchase lagi, namun dengan shade yang berbeda. Jadi, untuk kalian para pecinta cushion, nggak mau masukin produk ini kah ke daftar cushion yang wajib kamu miliki? Hehehe. Semoga review ku kali ini membantu kalian untuk bisa mempertimbangkan apa produk ini cocok untuk kalian atau tidak. See u next time~



Name Product: NYX Cosmetics Total Control Mesh Cushion Foundation

Shade: TCMCF08 Classic Chestnut

Price: 350.000

Repurchase: Yes

Kamis, 24 Oktober 2019

Review Viva Queen Perfect Look CC Foundation (Review Tjujuuur!!!)

Jadi,  ceritanya kemarin itu Ibu mau belanja ke pasar swalayan. Dan aku minta buat dibeliin bb cream karena udah lama banget nggak pakai akibat jerawat skripshit bulan bulan lalu. Minta beli dengan budget under 50.000 karena sudah jadi pengangguran. Meski kantong tipis, wajah harus teteup maneees. Apasih.
Akhirnya dibeli lah produk ini. Kata ibu sih, produk Viva meskipun cheap nggak akan bikin jerawatan parah. Dia menekankan konsep bahwa produk jadul itu komposisinya nggak neko-neko. Bhaiiiiks!

Viva Queen Perfect Look CC Foundation 


Buat aku packagingnya lumayan mewah. Dibandingkan produk merk lain dengan harga yang sama aku rasa Viva nggak kalah oke.


Klaim:

Inovasi yang menggabungkan makeup dan perawatan dalam satu langkah mudah dan praktis.

- Meratakan warna kulit wajah.
- Menyamarkan garis halus.
- Menyamarkan noda.
- Wajah tampak halus.
- Tahan lama.
- Melindungi terhadap pengaruh sinar UV.
- Membantu menjaga keremajaan kulit.
- Membantu mencerahkan kulit.
- Melembabkan kulit.
- Wajah tampak sehat berseri.


Mengandung SPF 35 PA+++.

Karena ada poin SPF 35 bukan berarti harus ninggalin sunscreen loh ya. Kebodohan aku dulu adalah berpikir bahwa bb cream bisa jadi pengganti sunscreen dan bedak. Alhasil aku pribadi merasa bahwa jerawatku yang parah kemarin juga disebabkan sama daily makeup dengan menggunakan bb cream. Pori-pori di wajah tersumbat dan mengakibatkan kotoran yang nggak bisa keluar.
Belum lagi aku keseringan nggak pakai cleanser dan toner, mengandalkan facial wash yang suka abis. Dan selalu pulang malam dengan debu polusi yang bercampur baur, apalagi makin diperparah buat aku yang pejuang angkutan dan KRL. Hiks.

Komposisi:

Aqua, Cyclopentasiloxane, Titanium Dioxide, Octyl Methoxycinnamate, Glycerin, Caprylyl Methicona, Sorbitan Olivate, Diethylamino Hydroxybenzoyl Hexyl Benzoate, Magnesium Sulfate, Betaine, Mica, CI 77492, Polymethylsilsesquloxane, PEG/PPG-20/15 Dimethicone, Phenoxyethanol, Zinc Oxide, C30-45 Alkyl Cetearyl Dimethicone Crosspolymer, Lanolin Cera, CI 77491, Talc, Polyhydroxystearic Acud, Tocopheryl Acetate, Hydrolized Collagen, Methylparaben, CI 77499, Palm (Elaeis Guineensis) Oil, Gossyplum Herbaceum Seed Oil, Decamethyl-cyclopentasiloxane, Methicone, Aluminum Hydroxide, Triethylene Glycol, Bidens Pilosa Extract, Allantoin, Stearic Acid, Hydrogen Dimethicone, Alumina, Linum Usitatissimum Seed Oil, Propylene Glycol, Disodium EDTA, Honey Extract, BHT, Tocopherol.



Awalnya rada ngeri setelah baca komposisi yang meletakkan titanium dioxide aka TiO2 di awal, karena biasanya sih setahuku semakin awal bahan tersebut di tulis semakin banyak kadar yang digunakan. Cuman karena Viva ini sudah ada izin BPOM aku bakal percaya bahwa kadar maksimal TiO2 yang digunakan masih dalam kadar aman untuk kesehatan.

Setelah mengalami proses peradangan panjang di wajah, aku lebih aware dan peduli sama komposisi make up atau skincare yang aku gunain.  Terlepas dari kandungan buruk pada komposisi produk ini ada banyak juga kandungan yang baik untuk wajah loh seperti Palm (Elaeis Guineensis) Oil dan Gossyplum Herbaceum Seed Oil, yang kayanya sih membuat produk ini bakalan nimbulin kesan dewy look.


Swatch




Awalnya aku pikir krim ini bakalan undertone untuk wajahku, tapi ternyata setelah di swatch justru pas banget untuk kulitku yang kuning langsat (nggak mau dibilang sawo atau cokelat-red) hahaha.

Oh iya setelah di swatch ada rasa dingin dan teksturnya bener bener creamy jadi lumayan mudah untuk di blend.



Finishing



Setelah memakainya, akupun merasa bahwa bb cream ini mencerahkan kulitku, menutup pori-pori dan rambut halus serta menyamarkan noda hitam. Kalau nggak ada blitz dikamera azeliiii produk ini nggak akan sebeda itu, justru malah nggak keliatan perubahannya sama sekali di kulitku. Tapi setelah aku coba foto pake blitz, wagelagelagelaaaa keliatan banget dwooong. Nggak nyangka bahwa produk ini juga bisa bikin kulit wajahku lebih segar dan nggak terlihat kusam.



Netto : 30gr
Price : 40.000
Purchase : Pikir pikir lagi deh, mau coba yang lain. 

Rabu, 23 Oktober 2019

Review Viva Waterdrop Sleeping Mask (Review Tjujuuur)

     Anyeonghaseo yeorobuuun...
 Assalamualaikum, hellow.. Yaampun wagela wagelaaaa. Sudah lama sekali saya gak nulis lagi di blogger (ambil kemoceng, bersihin sarang laba-laba. Whuush wushuuush-red)

  Kali ini saya mau review jujur. Ala ala beauty blogger nih eceu eceu.. Produk pertama yang saya review ini sumpeh murcee abiiis,  alemong murah cekaliii. Yaitu eng i eng, durumtaktaktak...

(Foto Not Found. Hahaha)

   Waterdrop Sleeping Mask keluaran Viva. Tadaaa. Packagingnya bagus banget, merah muda. Kebetulan juga saya suka sih,  girly banget dan keliatan cute gak siiih?

   Oh iya produk ini sih mengklaim bahwa formulanya diperkaya dengan :
✔️ Collagen yang membantu menghindari timbulnya tanda tanda penuaan dini (Mari hempasssh manja kerut kerut itu)
✔️ Aloe Vera Gel yang melembabkan, menyejukkan dan memberi sensasi yang menenangkan (Pas nyoba emang dingin dingin semriwiiing siih) 
✔️ Spirulina Extract yang kaya protein dan mineral 
✔️ Licorice Extract yang diklaim sebagai pencerah alami (bener gak yaaa...) 


   Di belakangnya udah jelas banget sih. Dari mulai cara penggunaan, sampai ingredientsnya. Kalau produk ini dibandingkan sama merk negara tetangga sebelah jelas beda. Dari harga aja udeh beda tsaaay. Tapi kesan pertama setelah saya mencobanya, sleep mask ini memang benar benar menarik.


   Bentuk krimnya putih kental, sempat shocked karena dikira bakalan berbentuk gel bening. Tapi ternyata setelah diusap usap bakal keluar butiran-butiran air. Persis, seperti yang diklaim.



   Ada rasa cooling karena mengandung alpe barbandesis gel. Kesan pertama bangun, buat saya sih nggak ngerasain lembab banget apalagi sampai jadi kilang minyak.  Padahal wajah saya cukup berminyak. Meskipun cyclopentasiloxane ada diurutan kedua ingredients.
Buat yang nggak tahu,  cyclopentasiloxane aka silikon ini memang banyak dipakai untuk produk produk kecantikan yang-biasanya sih mereka mengklaim bahwa produk mereka dapat melembabkan atau membuat kenyal wajah secara instan. Karena memang ya itu dia kegunaan dari si cyclopentasiloxane indaang.

   Saya sempat ragu karena akhir-akhir ini mudah jerawatan, tapi ternyata Viva Waterdrop Sleeping Mask ini nggak menimbulkan beruntus ataupun jerawat diwajah. Maybe, karena saya baru coba sekali. Mungkin harus dicoba coba berkali-kali.



Trademark: Viva Waterdrop Sleeping Mask
Price: 25.000
Netto: 80g
Purchase: Maybe~


Senin, 24 September 2018

When I Was Born Same As The Others



Pagi itu panas cukup terik, saya dan teman saya memutuskan untuk mengajar di salah satu sekolah luar biasa yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. SLB C, saya memutuskan untuk mengajar di SMP khusus untuk anak-anak penyandang tuna grahita. Seminggu telah berlalu, saya tetap ingat wajah-wajah yang menatap penasaran kearah kami berdua, tanpa tahu bahwa kami akan mengajar di kelas mana, mereka mencium tangan kami dengan senyum yang lebar. Saya ingat ‘koala mungil’ yang tiba-tiba datang kearah saya dan memeluk saya dengan erat, saya tertawa dan memeluknya kembali, ia mengalungkan kakinya dan mendongakan kepalanya, gigi taringnya muncul dari deretan gigi yang tak tersusun rapih. Saya tertawa, aneh, namun merasa begitu disambut.

Saat itu beberapa laki-laki dan perempuan yang memakai seragam SMP dan SMA berhambur kearah saya, dengan bahasa yang terkadang sulit di pahami dan intonasi suara yang terdengar kikuk mereka bertanya kelas mana yang akan saya ajar. SLB yang saya datangi terdiri dari TK hingga SMA, sekolah tersebut hanya menerima anak-anak tuna grahita, autism dan tuna rungu. Kelas yang saya tempati cukup besar untuk 10 orang siswa yang seringkali tidak lengkap setiap harinya, meski hanya disekat dengan sebuah papan kayu dan lemari besi besar untuk kelas SMA mereka tidak mempermasalahkan apa yang mereka dapat saat ini.
Pertama kali saya datiag, saya berbincang dengan seorang ibu muda yang memiliki anak penyandang tuna grahita berusia `10 tahun. Sekolah tersebut masuk pukul 8, namun sang ibu berkata bahwa ia sudah ada disana pukul setengah 7. Ketika adzan subuh berkumandang, sang anak meminta untuk segera mandi dan berangkat bersekolah. Saya tersenyum dalam hati, ah, betapa mereka begitu berbeda dengan anak kebanyakan.

Mungkin, bagi anak-anak luar biasa sekolah adalah tempat dimana mereka bisa bermain dan mendapatkan teman. Tempat dimana mereka tidak diharuskan di kurung didalam sangkar karena sang ibu atau ayah yang barangkali tidak mengizinkannya keluar rumah, tempat dimana mereka merasa dibutuhkan dan mengerti berbagai macam hal yang  tidak ketahui.
Beberapa kali saya berbincang dengan wali murid kelas saya mengajar, beberapa diantaranya sempat tinggal di sekolah negeri atau sekolah biasa lainnya. Dengan jelas, mereka mendapat pembullyan dari teman-teman sebayanya. Amarah dan emosi saya meluap ketika mendengar cerita tersebut, betapa mengerikannya kami, yang seringkali dianggap benar dan dianggap paling normal.
Ada seorang siswi  cantik yang saya ajak bicara saat itu, dia bercerita bahwa dirinya sempat sekolah di SMP negeri. Dia memang paling bisa diandalkan ketika saya kesulitan mencari informasi dan bertanya. Kali itu saya bertanya tentang dirinya, bagaimana perbandingan dengan sekolah yang dulu dia tempati dan sekolah ini. 

“Saya nggak ditemenin disana Bu, suka suka di kunciin didalam kelas. Kalau ada tugas kelompok nggak ada yang mau sama saya.”

Saya menatapnya, ada air mata yang dia tahan saat itu. Saya mengusap punuk kepalanya lembut.

“Gapapah. Orang hebat dilahirkan dengan cara yang berbeda.” Dan kali itu dia tersenyum sembari mengusap matanya yang mulai membasah. Hanya kata itu yang saya bisa ucapkan. Kali itu, saya merasa begitu berdosa, barangkali saya pernah menyakiti orang lemah seperti ini. Dengan mengabaikan mereka yang dikucilkan saat dulu.
Saya tidak tahu bagaimana mendeskripsikan betapa air mata saya seringkali ingin tumpah ketika mendengar cerita dari anak-anak luar biasa seperti ini. Kasus yang sama terjadi kepada siswa laki-laki, dia pemalu dan seringkali menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Saat istirahat, hanya dirinya yang tersisa didalam kelas. Saya bertanya dengan perlahan, mengapa dia tidak keluar, membeli sekotak mainan atau sebungkus makanan dan bermain dengan teman-teman.

“Malu”
Ah. Saya mendapat kasus lagi. Begitu otak memproses jawabannya.

Saya bertanya apakah dia tidak membawa uang jajan? Dan ia mengangguk. Saya bertanya kembali apakah ia ingin membeli jajanan? Ia menggeleng. Ia malu, dan saya mulai mencoba mendekatinya untuk tahu apa yang terjadi.
Selang beberapa waktu seorang perempuan paruh baya tiba ketika saya sibuk berbicara dengannya, ia tersenyum hangat dan mengenalkan diri. Ibu dari laki-laki pemalu ini membawa sebotol air dan seporsi makanan yang diwadahi plastik.

“Dia malu Bu, kalau saya kasih uang jajan pun nggak dijajanin. Malu katanya.”
Saya bertanya, apa yang membuatnya malu.
Sang ibu bercerita bahwa dirinya saat SD dahulu seringkali di letakkan dikelas karena tidak bisa memahami pelajaran oleh sang guru. Akibatnya ia dikenal sebagai murid yang bodoh. Ada seorang guru yang begitu tidak menyukainya karena bebal dalam belajar tanpa tahu penyebab yang terjadi.

“Pernah bajunya basah, diguyur pakai air pel lan sama temannya. Waktu itu juga pernah pulang telat, saya cariin terus saya tanya kenapa, katanya dikunciin dikamar mandi.”

“Bagaimana dengan gurunya Bu? Sudah dapat penjelasan?”

“Saya samperin ke sekolah Bu, kata gurunya namanya juga anak-anak. Tapi saya sakit hati, nggak ada sangsi yang dikasih sama gurunya, gimanapun juga itu kan udah jahat Bu.”

Saya mendengar dengan telinga yang berdenging, membayangkan pengalaman buruk yang ia dapatkan membuat saya marah. Betapa kejamnya anak-anak yang begitu saya sukai.

“Kalau dirumah bawelnya minta ampun Bu, tapi kalau udah keluar rumah merengut. Dia nggak mau keluar main, malu katanya.”

Saat itu, saya tahu bahwa anak-anak yang dilahirkan berbeda mengalami pengalaman yang berbeda dengan anak kebanyakan. Mengapa mereka diperlakukan seperti itu? Apa kesalahan mereka? Setiap manusia tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan seperti apa. Mengapa orang yang membanggakan dirinya ‘waras’ dan terlahir dengan fisik sempurna begitu tak tahu malunya merendahkan mereka yang kesulitan?

Rabu, 22 Agustus 2018

Sepotong Brownies


Hari itu hujan turun lebat, saya keluar dari kampus dengan gerutuan sebal. Beruntungnya ketika jaket rajut berwarna putih gading sempat saya tinggalkan di dalam ransel.


Sore itu, saya mendapatkan angkutan umum yang tidak begitu padat. Duduk di kursi yang menempel dengan kaca, ear phone yang terpasang di telinga dan bau tanah menyerembet ke indra penciuman, lengkap menghukum saya seketika.

Hari itu ada banyak masalah yang terjadi. Saya terlambat bangun, lupa mengisi saldo kartu multitrip, kereta yang terlambat hingga setengah jam, masalah administrasi yang membuat saya harus mengantri demi membutuhkan ‘satu klik’ dari mba-mba penjaga TU dan deretan masalah yang membuat hembusan nafas kesal berkali-kali keluar.

Ketika pulang, saya terbiasa melihat jadwal KRL, menyadari bahwa kereta baru saja berangkat, ada waktu satu jam lebih untuk menunggunya kembali. Saya memutuskan untuk mencari angkutan umum, dengan payung yang baru di beli ibu minggu lalu. Sore itu, seperti biasa, kemacetan terjadi begitu panjang. Entah dorongan darimana saya memutuskan untuk berhenti di satu persimpangan jalan, ada salah satu kedai yang ingin saya coba, dan membutuhkan waktu cukup lama untuk memutuskan masuk kedalamnya.

Ketika masuk kedalam kedai tersebut, air conditioner dengan wangi sirup vanilla menyambut saya, lengkap dengan bunyi dencing lonceng yang tergantung di handel pintu. Semua pelayan serempak menoleh dan mengucapkan ‘Selamat Datang’. Kali itu saya cukup kaget dan berseru girang di dalam hati. Kedai ini, persis seperti khayalan yang saya sukai. Ada banyak lampu gantung, berbagai poster kayu di dinding, meja bar bergranit, dan alat penggiling kopi yang menarik. Kedai ini, seperti kedai-kedai yang seringkali muncul di pencarian google. Not old-fashioned, charming and soothing.


Ah, saya harus menghabiskan uang bulanan untuk hari ini.

Pie susu almond menemani saya menghabiskan secangkir kopi pahit, dengan satu strip gula yang tidak berpengaruh sedikitpun.




Malam itu, saya menghabiskan banyak waktu untuk menangis, mata saya sembab dan waktu seolah begitu cepat berlalu sehingga saya begitu terburu-buru membiasakan diri dengan masalah yang baru saja terjadi. Hari itu, saya tidak bercerita dengan siapapun. Ada banyak ketakutan yang menghampiri saya, dan kejadian-kejadian buruk dimasa lalu membuat saya merasa semakin sulit untuk menenangkan diri.

Saya tahu, hari itu saya bisa berdamai dan baik-baik saja. Namun, ketika memutuskan bercerita kepada orang lain, saya kembali menjadi begitu memuakkan dan melepas semua amarah kepada orang-orang yang tidak terlibat sedikitpun. Setelah memalukan diri sendiri, lagi, saya menghabiskan banyak waktu untuk memakan makanan manis, meminum apapun yang saya sukai, dan membaca buku-buku yang sudah di baca berulang kali demi menghindari rasa bersalah.

Hari itu, apa yang saya pikirkan? Mengapa saya bisa meredam segalanya dengan baik? 

Saya mungkin hanya berpikir bahwa semua orang memiliki masalah yang lebih berat. Pasangan di ujung sana mungkin baru saja bertengkar karena salah satunya berselingkuh, laki-laki paruh baya yang baru saja mengelap meja mungkin baru bekerja di kedai ini karena kasus PHK, perempuan berambut ikal yang bersender pada salah satu kaca jendela mungkin baru saja patah hati karena tahu bahwa orang yang dicintainya bersama orang lain. Saya membuat banyak pengandaian, sehingga saya tidak merasa terlalu buruk karenanya.

Saya mengingat dengan jelas hari itu, tentang bayangan perempuan yang belum siap menggunakan seragam putih biru dengan lelehan tangis karena tersudut di salah satu dinding dengan orang-orang yang mengerumuninya dan mengutuknya, kata sumpah serapah, pukulan di pipi dan kepala oleh laki-laki yang lebih tinggi dan besar, cengkeraman di kerah baju oleh perempuan yang saya anggap ‘teman baru’ dan hukuman yang saya dapat karena ‘seorang teman’ mengambil topi merah setiap kali saya membelinya.

Pada beberapa kesempatan, saya pikir, itu cukup sepele. Mengapa ibu memasukkan kesekolah yang begitu saya benci, mengapa kakak mendukung penuh saya memilih jurusan, mengapa ayah marah ketika laki-laki datang kerumah. Saya pikir mereka memiliki alasan sendiri, alasan biasa seperti bagaimana ibu menginginkan anak gadisnya lebih kuat, kakak yang berharap adiknya tumbuh menjadi orang baik dan ayah yang tidak ingin kehilangan putri kecilnya.

Tapi saya pendendam. Saya masih mengingat kejadiannya dengan jelas, saya bahkan bisa bercerita kata-kata apa dari orang-orang yang menonton saya ketika dipermalukan. Juga tentang perempuan yang mencegat saya ketika ingin pulang, tentang segerombolan laki-laki yang menarik lengan saya, tentang kata-kata buruk yang mengubah saya menjadi lebih tidak perduli, dan tentang betapa saya terlihat begitu bodoh dan rendah dimata ‘sahabat’ yang saya punya.

Lalu kalau sudah seperti itu, mengapa saya tidak berubah menjadi apa yang mereka inginkan?

“Mba, karena hari ini Jum’at. Ada brownies gratis untung pelanggan kami.”


Ah sudahlah, biar saja orang-orang tumpahkan kopi panas itu dimanapun mereka inginkan. Saya masih memiliki sepotong kue manis di kantung, tak apa, segigitpun cukup menghilangkan pahitnya. Pada faktanya, saya tidak pernah bisa melupakannya, saya hanya cukup menyimpannya, dan tidak membiarkan seseorang pun mampu membukanya kembali.