Merelakan tidak pernah sepaket dengan mengikhlaskan. Kuatlah.

Jumat, 23 Juni 2017

"Seberapa Banyak?"

Di dunia ini ada begitu banyak orang yang menjalin pertemanan didalam sebuah kelompok. Ketika diberi sebuah pertanyaan, ada berapa banyak teman yang kamu miliki, ia tentu saja akan menyebutkan satu persatu nama yang dikenalinya, hingga ia akan tertawa dan mengatakan “Ah benar-benar banyak, sampai terkadang saya melewatkan nama teman yang lainnya”. Namun senyumnya berhenti ketika seseorang menanyakan, “Ada berapa banyak teman yang akan kamu temui ketika benar-benar sedang dalam kesulitan?”

Kamis, 09 Maret 2017

Si Tukang Nyinyir


Jadi ceritanya gue harus ngangkot tiga kali dari kampus, dimulai naik angkot yang apapun itu arahnya bisa sampe ke stasiun, naik lagi angkot 01 sampe ke bulak kapal dan diterusin sama angkot 16 C sampe depan gang alfamart, bukan gang rumah sih memang, tapi lumayan deket buat sampe rumah. Gue duduk sendiri kebetulan di angkot terakhir, ada satu orang ibu-ibu yang lagi sibuk main gadget dan satu orang ibu lagi yang bawa anak laki-laki. PAUD x, anak laki-laki itu kebetulan masih make seragam. Sederhananya, gue menyimpulkan bahwa mereka baru pulang, bisa pulang dari belanja setelah anak itu pulang sekolah, bisa pulang habis main ke rumah sodara setelah anak itu pulang sekolah atau bisa aja ibu itu habis pulang dari rumah teman sehabis anak itu pulang sekolah.

Tapi dugaan yang paling kuat yah si ibu sama si anak itu habis belanja dari pasar, di karenakan gue sempat melihat ibu itu bawa tentengan plastik yang kelihatannya ada sayur mayur di dalamnya.
Si ibu sama anaknya kebeneran lagi asik ngunyah makanan, nggak tau apaan, karena nggak sempat merhatiin lebih detail karena takut disangka kepengen. Tapi yang paling bikin gue inget adalah setelah memakannya, si ibu ngebuang plastiknya keluar pintu karena kebetulan angkot tersebut masih ngetem lumayan lama. Ya jelas anaknya juga ikut ngelempar sampah makanan itu keluar pintu, baydeway gue bener-bener duduk nempel di sebelah pintu sementara si ibu dan si anak berhadapan dengan posisi duduk gue.

Sederhana aja sih, gue bukan orang yang bersih dan cinta banget sama lingkungan.

Tapi kalo boleh cerita, gue mau sedikit cerita,

Jadi dulu waktu kebetulan ada acara bukber bareng temen kelasan SMK, gue sama temen-temen setelah makan asik ngekongkow bareng ditaman, lupa waktu karena mendadak cerita nostalgia menyelimuti tiap perbincangan kami. Gue yang kebetulan lumayan doyan es krim beserta makanan manis jajarannya, ngebeli beberapa snack untuk dimakan bersama teman-teman. Hingga akhirnya kita semua ketempat parkir dan memutuskan untuk pulang meninggalkan sampah sisa-sisa makanan yang kami makan. Tiba-tiba gue keinget untuk ngecek ponsel karena ada yang janggal seperti ‘Kok bapake nggak nelfon ya?’ tapi sebelum mau ngecek, temen gue ada yang nanya “Nis pinjem ponsel dong.” dan eng i eng!!! Handpone gue hilang sodara-sodara. Gue kalang kabut, buru-buru lari dan mau nyebrang jalan besar buat ketaman lagi. Kebayang nggak sih betapa shocknya gue?!

Hingga akhirnya temen gue nyentil jidat gue dan bilang “Gimana kalo gue nggak buang sampah lo ketempat sampah? Gimana kalo itu sampah-sampah yang lo buat dibiarinin ngegeletak gitu aja?” gue menghela nafas lega, dia ngasih ponsel gue dan bilang kalo ponsel gue ada didalam kantong plastik bekas sampah-sampah makanan yang gue beli tadi. Dan konyolnya, gue keinget kalo ponsel tersebut gue masukin kekantong plastik karena kebetulan tangan kanan dan kiri gue lagi megang makanan sementara Ibu nelfonin gue terus menerus.

Mungkin untuk gue pengalaman itu bisa jadi pembelajaran besar buat gue. Gue jadi mulai untuk nggak membuang sampah sembarangan lagi. Kebayang nggak tiap pulang ngampus kalo ibu suka ngorek tas gue, dia bakal nemuin timbunan sampah dan ngedumel. Tiap kali dia nyuci dan kantong gue selalu penuh dengan sampah dia bakal bersiul. Tapi biar bagaimanapun juga, gue mulai paham, kalo gue sudah mulai belajar sedikit demi sedikit.

Dari mulai ngantongin bekas sisa makanan kecil kedalam kantong baju, masukin sampah sisa apapun itu kedalam tas kalau memang lagi dijalan dan mulai meletakkan kantong kresek plastik dikamar.
Buat gue, yang suka mencoba untuk nimbun di sampah ditas. Ngedumel karena disepanjang jalan nggak nemu tong sampah karena lagi megang kantong sisa makanan. Atau nemuin hal terkecil seperti melihat orang lain menjadi model belajar untuk orang lain dengan perilaku konyol kecil seperti ‘buang sampah disekitarnya’ sedikit bikin gue meringis dalam hati, dan berdoa dengan pelan di nurani.

“Ya Tuhan, kalo memang nanti Kau datangkan banjir. Banjirnya dirumah dia saja ya, asal dirumah saya jangan.”

Sekian dari kami yang mulai belajar untuk mencintai lingkungan.

Jumat, 03 Maret 2017

Sebal Adalah Kata Awalan dari MENYEBALKAN




Biasanya kalo kepala udah pusing, perut udah mual dan badan mulai keringet dingin pas gue masih asik berkutat sama laptop, ada dua perkara yang mendasarinya. Yang pertama, gue lupa makan. Dan yang kedua, otak gue mulai ngebul

Biasanya sebab pertama yang selalu jadi prioritas ketika gue mengalami gejala tersebut. Pasalnya, gue termasuk jenis manusia yang ngendem dikamar dari pagi sampe ke pagi lagi, yang kebetulannya aja cuman keluar buat mandi, sholat dan beresin rumah karena ditereakin emak. Kenapa gue bisa segila itu ketika mengerjakan sesuatu? gue rasa semua orang pun sepakat bahwa ketika kita merasa memiliki tujuan, target dan melakukan hal yang menurut kita menyenangkan semua akan terlupakan begitu aja. Dan gue percaya, bukan hanya gue yang berperilaku demikian.


Kreativitas seseorang meningkat dimalam hari, dan hal itu benar-benar gue setujui dengan sangat teramat sangatngatngat. Setiap malam, sebelum tidur yang bener-bener tidur, gue selalu punya banyak hal yang ingin gue jadiin tulisan, ada banyak ide yang berkeliling diatas kepala gue yang menyebabkan gue suka tidur ketika jarum jam tepat diangka tiga, meski dengan kepala yang sudah asik diatas bantal dengan lampu kamar yang dimatikan.

Lalu gimana dengan siang hari? Saat dimana es teh benar-benar menggoda, abang bakso mencoba melambai dan tukang krepes beserta es krim bolak-balik ngelewatin rumah. Jadi mari disepakati bahwa itu adalah saat-saat dimana gue berkata dengan terlalu sering bahwa gue belum memakan apapun.
Pernah sewaktu gue hobi ngelukis waktu SD, gue bener-bener nggak melakukan apapun selain melukis. Maksudnya, gue cuman gambar benang kusut doang, tapi biar kerenan gue menyebutnya dengan melukis gitu loh, meski demikian gue ingat dengan jelas bahwa gue nggak melakukan apapun selain mengotori rumah dengan kertas-kertas besar dan cat warna. Pernah juga sewaktu itu gue bikin scrapbook dari pagi ke pagi lagi, karena gue terbiasa minum obat, maka minumlah gue obat pusing dan setelah itu gue sadar bahwa dua hari dihitung dari kemarin gue nggak memakan apapun selain air putih dan obat yang gue telan. Meski akhirnya scrapbook buatan gue nggak gue berikan sebagai hadiah dan gue simpan didalam laci.



Gue bisa jadi orang yang benar-benar menyebalkan ketika mengerjakan tugas. Gue bisa jadi orang yang mudah sekali dibenci ketika melakukan sesuatu yang betul-betul membuat gue tertarik. Lalu bagaimana dengan lo? Apa lo adalah orang yang segitu menjengkelkannya seperti gue?

Kamis, 26 Januari 2017

Dreams.



Dreams are invented. We are not born with them.

Gue pernah punya mimpi untuk jadi seorang dokter, karena  waktu kecil gue sibuk di rumah sakit. Buat gue dokter keren, hebat dan luar biasa wangi. Setelah itu mimpi gue berubah dari dokter menjadi seorang guru TK, lalu pengacara, penyanyi, penulis novel, editor, pebisnis hingga konselor.
Mimpi gue berubah-ubah, dari satu titik ke titik lain. Dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dan hal itu sesuai dengan apa yang terkesan luar biasa di mata gue. Setiap orang selalu punya banyak mimpi, dan hanya beberapa yang sanggup untuk menggapainya. Beberapa menganggap bahwa mimpi, cita-cita, harapan dan keinginan adalah sesuatu yang diberi oleh Tuhan untuk kita agar kelak mendapatkannya di kemudian hari.

Mimpi adalah sesuatu yang nyata, nggak kaya film Sailor Moon yang gue tonton di acara TV jadul dulu, dan untuk sebagian orang, hal tersebut begitu mudah untuk di gapai. Gue, tentu bukan menjadi salah satunya.

Gue selalu punya banyak mimpi, dan memiliki puluhan rencana. Kadang gue selalu ingin melakukan banyak hal, sampe akhirnya gue nggak melakukan apapun selain diam di tempat. Ada banyak orang yang mungkin sama seperti gue,  nggak mampu untuk banyak bermimpi semenjak usia semakin dewasa karena sadar akan keterbatasan yang di buat sama semesta.

Beberapa kali gue sering kali mengutuk, bersumpah serapah dan berpikir mengapa hanya gue yang selalu ketiban sial setiap kali ingin mewujudkan sesuatu. Gue nggak sadar bahwa mimpi sama seperti bintang, beberapa orang sanggup untuk menggapainya selebihnya hanya mampu untuk melihat dari kejauhan dan sisanya bahkan nggak mampu barang sekedar untuk menatapnya.
Mba Alanda pernah bilang di bukunya, ketika kita memiliki mimpi yang sangat besar, bersyukurlah. Yang Maha Berkehendak dan Maha Pengasih tidak mungkin mengizinkan kita memiliiki mimpi sedemikian besar tanpa memberikan kesempatan untuk meraihnya. Ada banyak orang di luar sana yang sering kali melewatkan kesempatan-kesempatan yang di datangkan untuknya, berharap bahwa kelak mimpi itu dapat bergerak dan berjalan sendiri menghampirinya.

Gue? Mungkin bisa jadi salah satunya.

Tapi nggak dengan gue yang sekarang. Ada banyak hal di dunia ini yang begitu gue lewati dan biarkan pergi begitu aja tanpa sempat mencoba untuk mengambilnya. Bahkan Tuhan pun nggak akan mengubah suatu kaum bila kaum tersebut nggak berusaha untuk berubah bukan?

Maka, gue akan mencoba. Berapa kali pun harus jatuh nantinya. Lagi pula menyerah itu adalah sesuatu yang wajar bukan?

Dream until the dream comes true, and then, dream some more!!!