Merelakan tidak pernah sepaket dengan mengikhlaskan. Kuatlah.

Kamis, 17 Desember 2015

Sekolah Terserah Murid

Waktu sebelum aku masuk STM. Aku sempet ngerengek untuk di masukin pesantren atau lebih memilih masuk SMA. Tapi ibu tetap memaksa dan pada akhirnya aku tetap tes disana.

"Aku mau ngambil teknik gambar bangunan kalo gitu."

Nope. Ibu dan bapak ngelarangku, mereka tetep nyuruh aku untuk masuk ke jurusan komputer dengan dalih "biar gampang nyari kerja kaya mas mu."
Padahal, setiap orang punya mimpi dan kesukaan yang berbeda.
"Do something because you love it, not because you want to look great doing it."
Kakak bilang, aku harus mencobanya. Seiring berjalannya waktu, semua pasti bakal baik-baik aja. Dan akhirnya bapak tetep ngambil map hijau, seberapa banyak pun aku bilang kalo aku sama sekali gak suka sama komputer.

Tes yang aku jalani dengan khidmat itu setengah asal aku kerjain.
"Nanti katanya kalo gak masuk komputer kamu bisa masuk bangunan." Tentu aja aku seneng. Yang harus aku lakuin hanya setengah ngasalin jawaban supaya gak masuk komputer, tapi Tuhan punya rencana lain. Aku masuk. Keterima.

Kalo ditanya what is your special talent? Tentu aja aku cuman bisa ngejawab, aku bisa baca novel empat ratus halaman cuman dalam beberapa jam. Aku lumayan bisa ngegambar. Dan aku suka banget nonton barbie. Tapi bukan itu yang waktu itu kakak minta. Dia nanya apa cita-cita ku. Aku mau jadi perawat atau enggak penulis novel. Kalo gitu bagus, komputer diperlukan untuk mengetik bukan? Hell yeah. Gak begitu juga kaliiii!

What is your biggest fear?
Dari dulu aku cuman punya temen deket perempuan, laki-laki sedikit membuatku gak nyaman. Dan STM yang jumlah laki-lakinya mendominasi adalah mimpi terburuk buat ku. MOPD pertama berlangsung, aku nyaris pingsan dua kali. Bagiku MOPD STM beda banget sama SMA atau SMEA. Gak ada senior jahat atau senior baik. Karena semua senior disana seolah-olah dibangkitin dari alam baka yang tugasnya nyiksa adik kelas.
Mimpi burukku semakin berlanjut. Awalnya aku mau masuk pramuka atau PMR tapi mengingat bahwa yang namanya baris berbaris itu mengerikan akhirnya aku justru melangkahkan kaki ke Rohis yang ternyata personil perempuannya cuman empat orang termasuk aku.

Setiap kali masuk gerbang STM ada perasaan aneh yang menggelitik. Tanganku berkeringat detak jantungku lebih cepat dari biasanya. Sekali lagi. Karena STM banyak cowok, sepanjang perjalanan di koridor aku cuman bisa nunduk dan setengah berlari. Karena gak tau kenapa beberapa kali namaku di panggil cuman barang buat godaan. Bukan. Bukan karena aku cantik, tapi mau sejelek apapun kamu sebagai perempuan. Kamu bakalan di jadiin objek ledekan.
Semester pertama ku gak berjalan dengan baik. Setiap hari aku ngerengek minta pindah dan nangis di depan ibu.

"Belum terbiasa. Lama-lama juga biasa."
"Gaapa-apa biar strong kalo temennya laki-laki semua kan?"

Aku cuman gak habis fikir kenapa kedua orang tuaku yang tahu kalo aku setengah takut sama laki-laki justru masukin aku kesana. Semakin berjalannya waktu aku terbiasa dengan ledekan senior dan milih alternative muterin jalan kalo ketemu "teteh-tetehan." Beberapa kali aku harus lompat jendela supaya gak ngelewatin kelas Teknik Permesinan yang berkali-kali suka ngusilin aku. Naik kelas dua, aku milih buat jadi anggota osis. Aku mulai di kenal banyak orang. Aku ngegalang dana di setiap jalan untuk korban banjir dan palestine. What I love to do matter much more than what I am good at; what makes me happy matters much more than what makes other people happy. Mampir di beberapa yayasan yatim piatu dan ngeliat korban banjir secara langsung nyadarin aku bahwa STM semakin lama terasa sebagai tempat terbaik untukku.

Meski, beberapa kali aku harus diejek temen rumah karena nebeng sama temen "cowok." Oh betapa mereka gak tau kalo di rohis itu cuman ada aku, Juli dan Laras yang bagusnya sama-sama gak bawa motor.

"Pacar lo banyak banget sih Nis."

"Lo mah sama kambing di bedakin aja mau ya?"

Kalo aja mereka tau betapa perbedaan STM dengan SMEA itu jauh mungkin kataan hina itu gak akan terlontar. Tapi, setiap orang berhak untuk nge judge. Gak perduli bahwa aku udah bersikeras untuk tetap jadi "Annisha yang baik." Semua berubah, menjelma menjadi sesuatu yang makin hari makin buruk. Dan sialnya, aku gak perduli. Aku justru menyukai pulang ba'da maghrib, sabtu dan minggu masuk sampai mabit. Aku menyukainya lebih dari apapun itu.

"Pulang maghrib mojok dulu ya Nis?"

"Itu siapa lagi Nis? Pacar yang keberapa?"

Makin hari omongan temen-temenku makin menjadi sampai kadang aku nangis dan curhat sama kakak. Just because you're think it's good, doesn't mean it is good for people. Kadang apa yang aku fikir nebeng sama temen lebih bagus ketimbang harus jalan kaki pulang sendirian ngebuat nilai diriku makin rendah.

Setelah perpisahan yang diadain di Jogja aku mulai sadar bahwa STM adalah tempat terbaikku. Di kenal ngebuat kamu semakin menjaga diri kamu untuk gak berlaku seenaknya. Beberapa kali aku mutusin untuk gak berpacaran karena tau bahwa aku di kenal sebagai Nisha yang baik seolah-olah jika aku berpacaran ngebuat pamor "baik" ku tercoret. And then- aku memiliki teman laki-laki yang menumpuk. Gak habis fikir aja kalo aku punya pacar berapa kali kami bakalan bertengkar hanya karena aku lebih sering main sama temen cowokku.

Be who for who you are, because someone wants to be like you and they might just lose their star.
Waktu itu aku sempet di tarik sama anak-anak cowok sekolah lain hanya karena pake seragam STM. Beberapa kali di hina "bau negeri" atau barang sekedar dikatain "cabe-cabean negeri" meski aku gak tau salahku apa sama mereka. Tapi makin hari aku makin merasa bangga sama seragam ini. Gak semua orang punya kesempatan untuk jadi anak satoe bekasi. Look for happiness. Life is meant to be enjoyed- but hard work and achievements are still necessary in order to gain respect from others.

Selasa, 01 Desember 2015

Selasa, 1 Desember

Sesuatu yang berasal dari bumi kelak akan tetap membumi.

Saya perempuan dengan banyak kakak, anak terakhir yang terlahir manja dan tidak mandiri. Satu-satunya dari sebuah keluarga yang masih sendiri. Menjadi seorang tante- bahkan sejak usia menginjak tiga tahun. Bulek kecil, begitu katanya.
Lima laki-laki dan lima perempuan. Mereka semua memanggil saya dengan panggilan yang sama. Menganggap saya sebagai salah satu bagian yang seharusnya memberikan amplop di hari raya.
Desember kali ini, hujan sudah mulai tiba. Tapi bukan masalah hujan yang menjadi pengantar dari cerita sedih kali ini.

Baiklah, saya akan memulai.
Jadi begini ceritanya,

Pagi ini, ibu dan bapak sibuk berdandan dan berkemas. Salah satu keponakan saya masuk ruang ICU. Begitu katanya.

Chaesar- keponakan saya yang kedua itu memang selalu berlangganan ke rumah sakit. Terhitung dari saya yang masih duduk di bangku SD dulu, yang lagi dengan jelas lebih memilih membolos karena harus menunggunya di ruang isolasi. Memory saya penuh dengan selang infus, jarum suntik, darah yang berceceran dan mata sembab kakak jika seseorang menyebut namanya kini.
Dia laki-laki bermata sipit, bertubuh gempal dengan suara bass yang berat.
Dia anak dari kakak pertama saya. Dari keluarga yang memiliki konflik klasik. Perceraian.

Jika kalian katakan ini adalah sebuah bentuk kesedihan seorang tante yang kehilangan keponakannya. Saya tak mengelak. Jika kalian katakan ini adalah bentuk suatu hukuman karena rasa tidak perduli. Saya terima.

Mungkin. Jika kali ini, Tuhan mengizinkan saya untuk bertemunya lagi. Setelah delapan tahun kami tak bertatap muka, dia pasti akan dengan polosnya mengatakan "Siapa teteh ini?"

Bukan. Saya mencintainya. Selalu. Sama seperti saya mencintai keponakan-keponakan saya yang lainnya. Tapi dia memang sedikit berbeda. Saya tak memiliki banyak cerita dengannya. Hanya rumah sakit, dan akan selalu rumah sakit sebagai latar saya mengingat dirinya.

Mungkin pula tak akan mengingat siapa yang menggandeng tangannya ketika dia merengek meminta perahu minyak dulu. Dia juga pasti tak mengingat soal peyek udang dan peyek kacang yang masuk kedalam daftar pokok makanannya. Dia tidak akan mengingatnya. Tentang seberapa banyak saya menggendong tubuh beratnya, menangis di saat ambulance membawanya, tertawa disaat suara seraknya mampu berbicara. Tidak dengan saya. Saya mengingat semuanya. Bahkan pada saat terakhir kali dia menginjakan kaki kerumah ini, saat dimana dia menatap saya dengan pandangan mata yang berbeda. Seolah-olah saya bukanlah orang yang menyayanginya. Seolah-olah kami adalah sepasang makhluk asing yang tak pernah berjumpa.

Jadi, kali ini. Dengan setengah tidak sadar, saya menuju stasiun. Menaiki salah satu kereta dengan modal info seadanya yang saya dapat. Saya tidak menangis. Belum. Setengah dari diri saya masih tidak menyadari bahwa kali ini dia memang benar-benar pergi.

Bahwa ruang IGD, UGD, Isolasi ataupun ICU tak mampu lagi mempertahankan detak jantungnya.

Mungkin. Saya masih bisa berdoa.
Mungkin juga. Saya masih bisa mengingat. Betapa dia akan selalu menjadi bagian penting dalam hidup saya. Sekeping puzzle berharga yang menjadi inti dalam sebuah gambar terbaik di dunia saya.

Kali ini saya membenci air mata, karena bacaan Yasin yang terpegang mulai memburam. Suara yang saya coba sebaik-baik mungkin terdengar dengan sempurna mendadak tersendat. Nama yang terpahat, tanah merah dan taburan bunga membuat kepala saya pening.

Ini bukan soal merelakan. Bukan juga tentang mengikhlaskan atau melepaskan. Dan tentu saja ini juga bukan sebuah perpisahan. Chaesar yang saya kenal akan tetap ada- berapapun lamanya. Kami hanya memiliki dunia yang berbeda saat ini. Karena kendati seberapa banyak pun saya memiliki ongkos untuk menaiki kendaraan bermobil, wajah dia tak akan pernah sampai kemari.

Sabtu, 31 Oktober 2015

True or False?

Bagaimana kabarmu?
Masihkah memimpikan orang yang tidak pernah mengingatmu?
Masihkah kamu menderita diatas kebahagiaannya dengan orang "berarti" disisinya?

Sebut saja itu cinta, jika kamu masih dengan bodoh merapal namanya. Lalu mengatakan "Tak mengapa, asal dia bahagia." Tapi bukankah cinta selalu menuntut memiliki? Bukankah merelakan tidak pernah sepaket dengan kebahagiaan? Lalu mengapa dengan angkuhnya kamu mengatakan hal bodoh seperti itu?

Bagaimana dengan jalanmu?
Masihkah kamu mengharapkan bahwa kelak dia akan mengatakan "maaf." Lalu dengan lembut dia akan meminta kamu untuk tetap mencintainya. Cih!

Jalanmu bukan dengannya!
Jika membenci adalah cara terbaik untuk tak mengemis kasih sayangnya. Maka, belajarlah untuk membencinya. Belajar lah untuk menerima bahwa kamu sudah cukup untuk berjuang.

Tatap dia yang berbeda di belakangmu.
Bayang sosok tersebut memang tak setampan dia. Tentu saja.
Dia tidak lebih sempurna darinya.
Tapi dia yang berada di belakangmu. Yang sampai kapanpun rela menunggu kamu berhenti menangis lebih baik daripadanya.

Jumat, 30 Oktober 2015

Dari Saya. Untuk Kamu.

Waktu melihat kamu. Saya mensyukurinya. Terimakasih untuk tetap ada.

Semasa TK. Pertama kali saya mengingat tentang rumah sakit adalah ketika ibu dan bapak tergesa-gesa membawa saya kesana. Saya sempat merasa takut akan jarum suntik, tapi setelah itu semua membaik. Tidak sesakit yang saya kira. Dulu, ketika masih SD beberapa teman di kelas menjerit bahkan ada yang kabur ke kamar mandi karena suntik vaksin campak dan imunisasi rutin. Saya yang sering terkena jarum hanya menunggu giliran dengan tenang.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Tak Berarti Apa-Apa

Kamu pernah memimpikan sesuatu?
Seperti ketika dia menggenggam erat jemarimu, semua akan terasa menjadi baik-baik saja. Atau ketika dia tertawa bersamamu, semua akan seperti ini selamanya.
Kamu sempat mengira akan memiliki keluarga kecil bersamanya. Menikah di pagi hari lalu memiliki rumah teduh yang menghangatkan.
Lalu tanpa di sengaja kamu berdoa agar Tuhan mau berbaik hati untuk menjadikan dia pendamping hidupmu. Sosok yang akan menabur benih kebahagiaan di dalam duniamu. Sampai akhir hayat nanti.

Lalu tiba-tiba semua berubah.

Seperti malam berbintang yang di sepak terjang badai. Seperti piring-piring kaca yang tersusun rapih dan tiba-tiba pecah berserakan.

Kamu berpisah dengannya, sebaik-baik mungkin.

Tapi nyatanya tak ada perpisahan yang baik.

Dan mimpi indahmu kemudian menjelma menjadi abu yang mudah menghilang hanya dengan satu tiupan saja.

Kamu masih menggenggam hatinya. Dengan cara yang berbeda. Dengan kenangan-kenangan yang tak pernah terkubur sempurna.
Sementara ia bahkan tak pernah memikirkan betapa hancurnya hidupmu saat ia tak lagi di sampingmu.

Cinta seharusnya tak sesakit ini.

Lantas kamu bisa apa?

Sesuatu yang pergi memang semestinya tak perlu kembali.

Saat ini duniamu terombang-ambing di tengah pusaran badai. Air matamu menjelma sebagai sebuah kesakitan dengan dalih pengkhianatan.

Sebelumnya. Bukankah dia mengatakan "Semoga kelak kamu mendapatkan yang lebih baik."?
Nyatanya kamu berfikir tak akan ada yang lebih baik darinya.

Kamu masih ingin berjuang. Sementara dia tak pernah menginginkannya. Seberapa lama pun kamu menunggunya, tak akan pernah ada pintu yang terketuk, langkah kaki yang berbalik atau barang sekedar sapaan hangat yang terjeda sekejap.

Cintanya sudah mati.

Dia tak lagi menghidupkanmu sebagai sosok yang berarti. Dasar cinta masih membuatmu tak mengapa di sakiti, asal dia bahagia. Asal dunianya sempurna.

Parasit.

Bisa di sebut apalagi perasaan sedih diantara kebahagiaan. Di panggil apa air mata dibalik tawa?

Sadarilah bahwa bintang yang kamu anggap sebagai penunjuk arah tak pernah menunjukan arah yang benar-benar sampai akhir. Dia bukan cahaya yang patut kamu tangisi ketika awan gelap malam menghapusnya.

Coba, hargailah dirimu. Seperti kali-kali yang terjadi ketika kamu mendapat nilai sempurna saat mengerjakan tugas. Cukupilah dengan kata "Tak ada dia pun tak berarti apa-apa."

Selasa, 08 September 2015

J, aku jatuh.

J kali ini aku datang kembali. Ada kata-kata yang berkali-kali menggema. Mampukah kita mempercayakan masa depan ditangan orang yang belum berdamai dengan masa lalunya?

J, aku mencintainya.
Aku mendambanya dengan sempurna. Dia seperti figur yang sedikitpun tanpa cela. Aku mencari-cari replikanya berharap bahwa mampu menemukan diantara yang lainnya.

Aku tidak menghargai diriku sendiri kan J? Aku masih saja terbangun dengan mimpi yang sama. Masih saja berdoa dengan nama yang sama. Aku ingin dia bahagia. Itu saja. Selebihnya aku membiarkan Tuhan yang mengaturnya. Sungguh. Percayalah padaku!

Lihat?
Aku hancur hingga kepangkalnya. Aku remuk, pecah dan sepertinya tidak bisa kembali menjadi utuh.

Langit masih biru. Beberapa kali pelangi muncul setelah hujan. Dan matahari masih tetap berkerja keras membuat aspal gersang dengan sempurna. Tapi aku tidak. Tidak dengan diriku J.

Orion.

Aku ingin menjadi sepertinya.

Aku ingin terlihat.

Aku ingin menjadi penunjuk arah bagi orang-orang yang tersesat dimasa lalunya.

Tapi bahkan, ada pun aku tak mampu. Orion tidak terang J. Tapi dia selalu ada untuk membuktikan kepada mereka yang membutuhkan bahwasannya dirinya tercipta untuk hal yang berguna. Sekarang kamu paham bukan? Aku tidak sanggup sepertinya.

Jelaskan padaku, mengapa sampai saat ini dengan segala kebodohan, aku masih ingin tetap seperti bintang dilangit?

Coba lihat lah aku J. Aku masih saja tersesat. Aku masih terombang-ambing di tengah pusaran badai. Aku.. belum benar-benar bisa kembali. Aku memang berdiri tegak, namun aku bisa limbung hanya karena sentuhan pelan.

Tataplah mata ku J. Lihatlah bibirku yang tersenyum. Bahkan orang awam pun mampu melihat tangis pecahku yang tersembunyi.

Aku lelah J.
Aku muak berpura-pura.
Aku bosan tersungkur kembali.
Aku jenuh harus jatuh cinta lagi dan ditinggal pergi.

Tolong aku J. Katakan padaku. Bagaimana caranya aku bisa bersinar meski dirinya membakarku habis-habisan hingga tak tersisa baranya lagi.

Dengarkan isak tangisku J. Berhentilah berpura-pura tuli. Aku serak bahkan mampu bersuara pun aku tak bisa.
Jangan dulu kamu muak. Aku berusaha, semampuku, sebisaku. Jangan dulu kamu jenuh mendengar keluhku yang tidak berkesudah.
Ku mohon. Jangan J.

Mau ku bawa kemana sakit yang berkepanjangan ini? Aku tak memiliki sedikit ruang untuk ditinggali. Aku tak punya sedikit waktu untuk mengatakan bahwa aku akan selalu ada ketika dia memilih kembali.
Aku bersedia menunggu.
Berapapun lamanya.
Semampuku, aku akan tetap ada.
Sebisaku, aku terus mendoakannya.
Sesanggupku, aku mencintainya.

Atas segala keMahaanNya. Aku akan tetap terjaga. Berharap kali-kali dia akan pulang ke tempat dimana aku meninggalkan hati. Tapi sekali lagi- aku bukan rumah untuknya J.

Berapapun lamanya aku menunggu dia tak akan pernah datang.
Semampu aku bersikeras tetap ada, dia enggan menoleh.
Sebisa aku terbangun dan terlelap kembali karena mendoakannya namaku tak pernah melantun dibibirnya.
Secintanya aku, dia tidak akan mau tahu.
Aku hanya bagian kesalahan masa lalunya J.
Aku yang terbusukan, tidak terselamatkan.
Aku yang terpojokkan tak akan mungkin lagi mampu berdiri, membusungkan dada di barisan depan.

Karena aku bukan orang yang dia harapkan.
Aku hanya debu yang menutupi benda-benda usang tak berharganya. Sekedar jeda nafasnya, itu bukan aku.
Tak pernah terhirup, tak pernah terdengar, terlihat ataupun teraba didunianya.

Aku hanya mencintai tanpa berbuah dicintai.

Jadi J. Sampaikan padanya, bahwa mataku masih saja memerah setiap kali namanya ku dengar. Kerongkonganku tercekat hanya karena hal sepele seperti deru mesin atau warung sederhana dipinggir jalan. Kenanganku tak pernah benar-benar terkubur.

Bilang padanya. Pulihku akan memakan waktu cukup lama. Dan bila suatu hari aku pulih, maka aku tak akan pernah benar-benar lupa bahwa dirinya salah satu sumber kebahagiaan yang menjatuhkanku ketitik terbawah.

Dan mohonkan padanya. Jika kelak dia berbahagia dengannya-
Rapal lah nama ku sesekali, untuk mampu tertawa lepas meski tanpa dirinya.

Aku ingin percaya pada masa depan J. Pernah aku berfikir- sudahi saja semua. Tapi ibu bilang, aku harus berjuang untuknya. Untuk mereka.

It's Okay.

Setelah patah kamu mungkin gak tahu lagi bagaimana caranya menulis kata-kata bahagia. Merancang masa depan, dan memupuk cita-cita dengan tinggi.

Mungkin awalnya kamu akan mengaku  "Aku lebih baik sendiri." Dan mungkin, mulanya kamu akan mengatakan- "Aku gapapah. Aku it's okay meski tanpa dia." Setelah itu masih dengan mungkin, kamu juga menegaskan bahwa gak akan pernah ada lagi air mata untuk orang yang gak pernah mau tahu kalau setiap di tengadah tangan, di sekitar mata sepet dan sujud panjang ada nama yang sampai saat ini masih tetap menggema dan terlafal dengan sempurna.
Beberapa kali- ada percobaan dimana satu orang, dua, tiga hingga yang kesekian menggandeng erat jemarimu. Sedikit menelaah apa genggaman jemarinya sehangat dia? Apa ada mata teduhnya dibalik mata orang yang saat ini, dengan gamblang memperjelas bahwasannya dia siap untuk menjadikanmu akhir dari segala tujuan. Kamu sampai sekarang masih tetap menyangkal dengan sempurna, meski hatimu tetap saja tergores kalau-kalau ada yang meyebut namanya. Seolah-olah namanya adalah salah satu mantra ajaib, racun terkuat atau sihir terbesar dalam hidup.

"Aku udah move on."

Mendelet segala kontaknya. Memblokir dan menghapus segala yang ada di ponsel lebar mu itu gak pernah banyak membuat perubahan besar. "Aku gak perduli. Mau dia mati atau hidup. Bodo amat!"

See?
Kamu belum move on. Orang yang mengatakan gak perduli adalah orang yang bener-bener perduli. Sama aja ketika kamu bilang aku baik-baik aja. Kata sihir seperti itu hanya ditujukan untuk orang yang gak pernah baik-baik aja.

Aku harus apa sebagai orang yang melihat kepura-puraanmu? Lihat deh temen-temen yang menatapmu disaat kamu menyembunyikan tawa di balik tangis kencang itu. Mereka sama sakitnya seperti kamu. Mereka sama-sama gak mau melihat orang yang menjadi salah satu sumber kebahagiaannya terhempas begitu aja karena baru aja di terbangin lalu dihempasin ketanah.

Balon yang diterbangin keatas langit- atau segala sesuatu yang pergi keatas sana akan tetap jatuh kebumi. Bawah ada atas. Pergi ada pulang. Begitu juga dengan perkenalan, sepaket sama yang namanya per-

Berapa kali mereka- para penulis, sahabat karibmu atau mungkin orang yang hanya sebatas kamu tahu nama bilang hal itu? Berapa banyak oranf yang mengutuknya, menyumpahinya karena udah ngebuat kamu terluka?

Kamu emang pernah ngalamin hal yang lebih sakit dari ini. I know that.

Kamu sama seperti ribuan atau jutaan orang diluar sana. Sama-sama munafik. Sama-sama memakai topeng untuk menutupi betapa dia dengan hebatnya menghancurkanmu hingga ke puing-puing terkecil. Hingga ke akar-akar terkuat yang udah kamu capek tanam dari jauh hari.

Coba sedikit bercermin.

Lihat kan?
Tuhan nyiptain kamu bukan untuk disakitin.

Coba kamu bernyanyi.

Sefalse suaramu Tuhan lebih senang mendengar kamu tertawa ketimbang mendengar isak tangismu karenanya.

Coba kamu lihat mamah papahmu.

Mereka mencintai-lebih dari yang kamu tahu.

Aku yakin mereka berdua pasti akan menjadikan dia samsak tinju kalau melihat anak yang susah payah dihidupinya, disayanginya, dijaganya dan dibesarkannya berkali-kali gak bisa tidur karena terlalu sibuk menangis.

Dan terakhir.
Lihat dia dengan kebahagiaannya.

Kamu harus bersyukur- kebahagiaan dia gak mampu membuat bibirmu itu berhenti terseyum atau tertawa dan memperlihatkan deretan gigimu.

Berdoa lah sekali lagi.
Untuk kebahagiaanmu.

Kamu udah terlalu lama mengenyampingkan kebahagiaanmu.

Berjanjilah pada dirimu- satu hal.

Kamu harus tetap bersinar. Sekalipun mereka yang kamu kasihi sedikit-sedikit pergi meninggalkan.

Tetaplah seperti bintang dilangit. Bersinar. Dan menjadi penunjuk arah untuk orang-orang yang membutuhkanmu.

Note: Jangan capek! Disana jodohmu lagi sibuk nyari uang karena gak mau ngeliat kamu menderita dalam kesusahan. Tuhan cuman mau ngasih tahu kamu- bahwa cinta yang salah membuat hambaNya bersyukur karena pada akhirnya mendapatkan cinta yang benar.