Merelakan tidak pernah sepaket dengan mengikhlaskan. Kuatlah.

Rabu, 02 September 2015

Aletha (Satu)

Aletha sibuk merapihkan berkas-berkas yang menumpuk dimeja redaksinya siang ini. Sesekali dia mengunyah permen karet mintnya yang sudah terasa hambar. Alih-alih AC yang terpasang tidak membuat keringatnya berhenti mengucur. Dia sudah sibuk sana-sini sedari tadi. Ada banyak artikel, psycho-test dan beberapa jurnal yang menunggunya untuk di edit. Dia mendesah pelan, kalau saja mba Meylan tidak mengambil cuti nikahnya saat ini dia pasti tidak akan harus seribet dan seabsurd ini.

"Ada yang bisa gue bantu Tha?"

Aletha tersenyum miris kemudian duduk kembali dibangku kerjanya.

"Lo bisa ngedit naskah novel yang kemarin pak Regar bilang gak?"

"Novel karya si penulis baru itu ya?"

Perempuan berbehel itu mengambil sebungkus permen karet mint milik Aletha yang teronggok diatas tumpukan kertasnya lalu mengunyahnya dengan pelan.

"Iya. Cuman sedikit doang kok salahnya. EYDnya masih sedikit berantakan, tapi selebihnya oke-oke aja."

"Bukannya gue gak mau Tha. Tapi lo tau sendiri kan, gue juga gak paham soal EYD EYD-an begitu. Mungkin gue bisa bantu lo selain ngedit naskah atau skript."

"Kerjaan gue kan emang begitu non. Ngedit ini ngedit itu. Kalo gak lo bantu gue buat ngeprint jurnal sama  artikel yang udah gue edit aja deh, gimana? Pak Roy gak mau soft copy soalnya."

"Okedeh sip. Mana sini flashdisknya?"

Aletha mengangsurkan flashdisk kemudian tersenyum.

"Thank's Jey."

"U're wellcome honey."

Perempuan berbehel yang memiliki nama Jessica itu pergi sementara Aletha maelanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dia mulai mengetik kembali pekerjaannya yang membuat pundaknya sedikit kesakitan. Sepertinya dia akan meminta ibunya untuk memanggil tukang pijat langganannya dirumah nanti. Dan sepertinya juga- dia harus meminta sedikit kenaikan gaji karena harus kerja ekstra minggu ini.
Tanpa terasa bunyi bel berdering, tanda istirahat berlangsung. Aletha mendesah pelan, kemudian menggambil telephone kantor disisi kanannya. Sepertinya dia lebih memilih memesan makanan siap antar ketimbang harus turun kebawah- bergabung bersama teman-teman redaksinya untuk makan dikantin yang kayaknya akan menghabiskan waktu banyak. Dia gak mau kalau nanti tugasnya harus membuatnya bergadang hingga pagi seperti kemarin-kemarin. Oh No! Bahkan kalau dilihat-lihat penampilan Aletha saat ini hampir menyerupai mayat hidup. Rambut curly yang biasanya dibiarkan tergerai rapih atau dikuncir satu di biarkannya terjepit asal. Dua lingkaran hitam muncul disekitar kedua bola matanya, dan dia bahkan gak sempet mengoles lipstick dibibirnya. Meski seperti itu tetap saja, Aletha Kusuma Dewina adalah salah satu perempuan tercantik yang dipunyai Gomedia. Tanpa hiasan apapun atau make up dia tetap kelihatan seperti barbie berjalan. Bola matanya bulat dan memiliki bulu mata lentik panjang yang lebat. Alisnya tebal dan hidungnya mancung. Kalo kata Pak Fian, Aletha itu salah satu jelmaan putri Cleopatra. Soalnya siapapun yang melihat dirinya pasti sepakat kalau dia punya wajah Arab.

****

Laki-laki berkemeja putih itu berjalan tergesa-gesa. Bahkan dia memarkirkan mobil sport hitamnya ke sembarang arah. Setelah memasuki bandara Soekarno Hatta matanya mencari-cari seseorang yang sudah begitu ia nantikan kehadirannya. Diliriknya berkali-kali jam arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

"Abi!"

Laki-laki itu mencari sumber suara yang baru saja menyebut namanya. Senyumnya merekah setelah di dapatinya orang yang baru saja memanggilnya. Setelah jarak tidak lagi memisahkan, keduanya berpelukan erat. Seolah-olah pelukan itu mampu menghilangkan rindu diantara keduanya.

"Lo apa kabar bro?"

Laki-laki berkaca mata itu menepuk pundak Abi pelan.

"Gue baik. Lo yang apa kabar? Ausie gak akan ngubah lo jadi orang yang gak gue kenal kan?"

Keduanya terkekeh pelan. Laki-laki dihadapannya mulai menarik koper hitam besarnya.

"Gue yang justru takut kalo lo berubah. Gimana? Lo udah punya calon belom?"

"Calon apa? Calon babu?"

"Lo belum move on ternyata ya man dari..."

"Gue sibuk bisnis rumah makan jepang. Lo mau ikut gabung?"

"Gue maunya gabung, tapi bokap nyuruh gue megang perusahaan tekstil dia juga bro. Katanya udah tua, udah capek ngurus begituan."

"Oh iya. Apa kabar om Adi? Gue udah lama banget gak main kerumah lo."

Abi mengalihkan pembicaraan, sementara laki-laki berkaca mata yang menyandang nama Diko itu tau bahwa dia sudah salah bicara.

"Papah setau gue baik-baik aja, dia bahkan dua hari yang lalu nelfon gue buat nanyain kabar disana. Eh iya, ngopi dulu yuk. Pait nih lidah gue."

Abi mengangguk. Kemudian keduanya berjalan menuju coffe shopp.

"Entar lo mau ke apartement adek lo apa langsung balik pulang Ko?"

"Gue langsung balik. Lagian udah seminggu ini kok dia tinggal dirumah soalnya apartement tuh anak dalam renovasian katanya sih."

Pesanan Abi dan Diko datang bersamaan. Abi menghirup harum lattenya sementara Diko menyesap moccanya dengan tenang. Keduanya memang sama-sama penggila kopi. Sejak SD mereka sudah ditakdirkan untuk bersahabat. Hanya setelah lulus SMA lah, mereka harus berpisah sekolah. Diko memililih kuliah di Ausie sementara Abi tetap tinggal di Indonesia. Tidak ada yang cacat dalam persahabatan mereka. Semua terasa transparant, telanjang dan begitu apa adanya.

"Om Farhan akhirnya ngizinin lo buat tetep buka usaha?"

Diko menatap sahabatnya itu setelah melepas kaca mata hitamnya dan menyelampirkannya dikaus hitam polosnya.

"Mau gimana lagi? Usaha gue berkembang. Dan gue bisa ngebuktiin kalo gue bisa hidup makmur tanpa duit Papah."

"Lo masih gak minat buat jadi dokter? Ya alih-alih kerja sampingan gitu."

Abi menggeleng tegas.

"Gue udah terlalu sibuk sama bisnis taman bunga di bandung. Belom lagi rumah makan dan beberapa outlet pakaian. Semua udah cukup nguras waktu, tenaga dan fikiran gue Ko."

Diko menyendok fruitcakenya sementara Abi kembali menyesap lattenya.

Abi lulus menjadi seorang sarjana kedokteran dengan umur yang muda. Dua puluh satu tahun. Paras tampan dan wibawanya terlihat sejak dia menjabat sebagai ketua OSIS di SMAnya dulu. Abi memiliki mata sipit dan hidung mancung, rahangnya terlihat kokoh dan lesung pipinya membuat siapapun sepakat bahwa dia salah satu laki-laki tertampan yang ada dibelahan dunia ini. Berbeda dengan Diko yang memiliki wajah timur tengah. Matanya bulat dengan bulu mata yang lebat- hidungnya bangir dan kulitnya agak kecoklatan. Terlalu sering bahkan orang-orang menganggap bahwa Diko memiliki darah Arab. Bahkan dulu waktu SD, Diko sempat di panggil dengan sebutan "anak Arab."

"Sebelum kerumah, anterin gue ke toko bunga dulu ya. Gue mau ngasih surprise buat mamah nanti. Dia kan penggila mawar."

Abi tersenyum kemudian mengangguk.

****

Aletha menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, perasaan dia meletakkan buku novel terjemahan yang baru di belinya itu disini. Tapi kenapa tiba-tiba buku itu raib begitu saja?

"Teeet. Teeet."

Bunyi bel dirumahnya terdengar nyaring. Siapa sih yang namu maghrib-maghrib begini? Gak tahu sopan santun banget! Dengan rutukan didalam hati Aletha melangkahkan kakinya kearah pintu. Dan...

"Holla adikku yang cantik."

"Mas Abi?"

Diko melirik sahabatnya sekilas dengan dahi yang mengerut.

"Tuk!"

Satu jitakan pelan mampir dipuncak kepala Aletha.

"Lo tuh yaaa. Bukannya kaget gara-gara masnya dateng. Malah kaget nyebut nama orang lain."

Aletha meringis. Kemudian memeluk Diko dengan kencang.

"Lo bukannya salam dulu kalo masuk eh malah godain gue."

Selepas pelukan itu. Diko ngeloyor masuk sementara Abi masih ngerasa canggung dihadapan Aletha. Dia benar-benar gak nyangka perempuan yang dulunya sering banget di gendong kesana-kemari udah menjelma jadi bidadari yang kasat mata.

"Ayo mas, masuk. Udah lama gak kemari ya? Jadi rada malu gitu mau masuk."

Aletha mempersilahkan laki-laki dihadapannya itu dengan ramah, di sertai senyum manis yang membuat gigi gingsulnya terlihat.

"Mamah mana?"

Tau-tau saja Diko sudah meminum jus kemasan dan berjalan menuju ruang tamu. Sementara Abi mengikuti Aletha yang duduk di sofa panjang berbahan beludru halus itu. Sementara koper besar hitam milik Diko teronggok tidak berdaya disamping TV LCDnya. Aletha menggeleng-geleng kepala, setelah dua tahun gak ketemu. Ternyata gak ada yang berubah dari kakak semata wayangnya ini.

"Lagi dirumah tante Mira. Kan anak tante Mira ngelahirin."

"Si Revi?"

Aletha mengangguk kemudian berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minum.

"Lo nginep disini aja man."

Samar-samar terdengar suara kakaknya dari balik dapur. Aletha menghembuskan nafasnya dengan lega. Berdekatan dengan Abi bukan hal baik bagi dirinya. Setelah lima tahun gak ketemu ternyata dadanya masih aja gak mau diajak kompromi, masih aja berdetak gak karuan kaya selesai lari marathon. Abi-cinta pertama Aletha. Cinta yang membuat Aletha harus bersusah payah untuk kelihatan tegar. Cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Kalo diingat-ingat lagi, Aletha gak habis fikir kenapa dirinya dulu bisa senekat itu nyatain cinta ke temen kakak laki-lakinya. Dan gak tahu juga sejak kapan Aletha bisa se deg-degan itu tiap kali ketemu Abi. Yang jelas, hal yang paling diingat dari kejadian memalukan itu adalah kakak laki-lakinya gak berhenti buat ngecengin dia. Gak habis fikir juga kenapa Abi bisa sejahat itu ngaduin ke Diko.

"Lo tuh ya mas, ngajak tamu bukannya di sediain minum atau apa kek. Malah di biarinin gitu aja."

Aletha meletakkan jus jeruk itu di meja tamu beserta dengan martabak manis yang baru aja dia beli sepulang kerja tadi.

"Kan ada lo. Ngapain gue kudu repot-repot?"

Aletha mengerucutkan bibirnya kemudian segera menaiki tangga.

"Lo mau kemana dek?"

"Ke kamar lah. Kemana lagi?"

"Ini malem minggu. Lo gak jalan sama pacar lo?"

"Gue gak punya pacar."

Seketika tawa Diko meledak.

"Cantik sih, sayang jomblo."

"Sialan lo!"

Aletha segera balik badan kemudian menaiki tangga dengan cepat.

Kamis, 09 Juli 2015

Just He. Just She.


Aku sibuk membuka buku novelku. Seolah-olah membiarkan laki-laki dihadapanku ini sibuk menyendiri dalam kegalauannya. Asap rokok tercium lewat indera penciumanku, aku beralih fokus pada laki-laki yang sibuk menyesap rokoknya.

"Sejak kapan lo ngerokok lagi?"

"Alya balik sama Fadil." Dia menatap lattenya dengan nanar. Aku mendesah pelan.

"Gue gak suka lo ngerokok di depan gue. Kalo mau mati jangan ngajak-ngajak!"

"Kira-kira dia bakal balik ke gue lagi gak ya Sha?" Dia menatapku penuh harap, berharap bahwa aku akan mengganggukan kepala seperti yang sudah-sudah. Damar perokok. Dan aku tahu, perempuan yang bisa berhenti membuatnya merokok hanya satu. Alya.

"Dia bahkan gak pernah ngehubungin gue lagi. Dia nge-remove contact person gue di bbm. Sebenernya yang sakit disini siapa sih? Lucu ya." Tawanya terdengar hambar.

Aku tak pernah tahu apa ada lagi wanita setolol Alya yang lebih memilih laki-laki brengsek macam Fadil dan menyia-nyiakan pria sesetia Damar. Atau justru aku tak habis fikir, mengapa laki-laki bodoh ini tetap memperjuangkan cintanya. Cinta yang membuat dia susah payah harus terguyur hujan hanya karena mendengar perempuan itu sakit. Cinta yang mengatas namakan tak pernah hilang harapan. Cinta bodoh yang begitu aku benci dengan amat teramat sangat hingga kini.

"Gue tahu semua emang salah gue. Harusnya gue bisa se-kaya Fadil. Harusnya gue bisa jadi mahasiswa PTN. Gue bego. Dan gue tahu Alya gak suka cowok bego macam gue." Dia tersenyum nanar.

Aku tak bersuara seperti yang sudah-sudah. Tak memberinya usapan kecil di kepalanya lagi. Aku membiarkan laki-laki yang biasanya tak banyak bicara sibuk menjelek-jelekan dirinya. Aku tak tahu lagi, usaha apa lagi yang mampu membuatnya sadar. Bahwa Alya bukan pintu yang seharusnya ia ketuk. Bukan tempat yang dijadikannya akhir dari tujuan.

"Gue emang gak pernah pantes buat dia ya Sha?" Kali ini tawanya terdengar begitu menyakitkan.

Aku tahu hatinya sedang menangis. Aku membiarkan dia kembali berpura-pura bahagia. Membiarkan dia menyesali keputusan-keputusan yang dia buat untuk tetap memperjuangkan cintanya.

"Please. Matiin rokok lo. Atau gue balik duluan, dan ninggalin lo disini sendirian!" Dia tidak mengalihkan fokus matanya ke arahku, seolah-olah latte yang ada di hadapannya lebih berharga dari wanita yang selalu menyembuhkan luka hatinya dengan susah payah. Damar mematikan rokoknya.

"Lo punya permen mint?" Aku merogoh tasku, lalu hanya menemukan permen-permen coklat kesukaanku.

"Gue punyanya ini." Dia tersenyum kecil. Lalu mengambil permen dari tanganku dan memakannya.

"Lo gak pernah berubah ya. Masih jadi penggila cokelat."

"Menurut para psikologi. Wanita yang menyukai cokelat cenderung bersikap hangat, ramah dan tulus."

"Kayanya itu riset salah. Buktinya lo enggak."

Aku menatapnya sinis. Sementara dia tergelak. Perlahan tawanya mereda. Hening yang panjang.

"Sha."

"Hem?"

"Apa yang harus gue lakuin lagi buat Alya supaya dia bisa balik sama gue?" Aku menatap mata elangnya. Pertanyaan puluhan kali yang sudah sering ku jawab dengan begitu naif.

"Lo gak bisa berenti buat suka sama dia? Dia udah nyakitin lo Mar."

"Gue yang mau sakit karena dia Sha. Dia gak pernah bikin gue sakit. Justru... dia yang ngebuat gue sembuh dari segala macam kebodohan di otak gue." Aku mendesah pelan. Bahuku merosot.

"Mana yang lebih lo pilih? Mencintai mereka yang mencintai orang lain atau mereka yang dicintai orang lain?"

"Gue milih mencintai, lalu berujung dicintai."

"Gimana kalo lo jadi orang yang mencintai dan gak dicintai? Lo bakal sakit, ngerengek-rengek sama Tuhan supaya dia cinta sama lo. Tapi waktu Tuhan bilang dia gak bakal cinta sama lo, apa iya lo masih mau mencintai dia? Apa lo gak bisa belajar mencintai orang lain? Apa satu-satunya perempuan di dunia ini cuman Alya yang bisa dan sanggup ngelengkapin lo?"

"Just she, Sha. Just she." Ia meratap. Aku menggeleng kuat.

"Bukan dia. Gue yakin." sahutku dengan semangat.

"Terus siapa?" Pertanyaannya menohok balik hati ku.

Aku Mar. Mungkin aku orangnya.

"Lo bisa belajar buat jatuh cinta sama orang lain Mar. Di antara milyaran manusia, gue yakin bukan Alya yang ditakdirin buat ngelengkapin lo." Aku menatap matanya dengan hangat. Berharap bahwa benteng dingin dibalik hatinya melunak.

Tapi kami sudah bertahun-tahun bersama, aku mengerti dia daripada Alya. Aku menyayangi dia lebih dari Farah, Siska atau belasan wanita lain yang berkali-kali mencoba memikat hatinya. Damar lebih tampan dari Fadil. Damar lebih hebat dari Fadil. Damar lebih tulus dari Fadil.

Tapi hati Alya tidak pernah bergetar setiap kali tangannya di gandeng, setiap kali dahinya di kecup, setiap kali tubuhnya dipeluk. Tangan Damar, bukan tangan yang Alya harapkan mampu menautkan jemarinya hingga ujung waktu. Sosok Damar, bukan sosok yang membuat Alya mampu menangis. Tidak dengan Damar. Alya satu-satunya wanita yang dia harapkan kelak menjadi ibu dari anak-anaknya. Meskipun Alya miskin, bodoh dan penyakitan. Damar tetap menjadikan dia sebagai sosok satu-satunya yang paling sempurna di bandingkan dengan belasan wanita-wanita lain yang tergila-gila kepadanya.

Aku menengguk latte ku dengan pelan.

"Apa ada sakit yang lebih parah dibanding mencintai orang yang gak pernah mencintai balik Sha?"
Aku menatap matanya lembut.

Ada. Mencintai seseorang yang tidak pernah tahu bahwa kita mencintai orang tersebut. Hanya untuk tidak membiarkannya menjauh dari dunia kita. Aku meraba-raba hati ku sendiri, sudah kah luka ini pulih? Sudahkah aku bisa berhenti mencintainya? Bisakah aku membuka hati untuk orang lain? Karena hingga saat ini. Damar tak pernah mau membiarkan aku masuk, dia lebih memilih mengunci pintunya rapat-rapat. Dia menempatkanku di tempat yang tidak aku inginkan. Persahabatan.

"Gue gak tahu."

Kerongkongan ku terasa tercekat. Aku berpura-pura sibuk kembali membaca novel. Sementara dia mulai memakan permen ketiganya. Cinta ini tidak pernah berkesudah. Tapi melupakannya pun begitu susah.

Kamis, 18 Juni 2015

Nisa. Nisha.


Untuk perempuan yang sudah menjadi mahasiswi negeri di ujung sana. Tolong baca pesan ini baik-baik ya.

"Hey, apa kabar Nisss? Ini ramadhan yang entah keberapa kita gak pernah bisa buka puasa bersama ya. Terakhir kali aku kerumahmu kalo gak salah pas kita lagi sama-sama berjuang buat ikut Sbm kan? Emang gak lama-lama banget sih. Tapi waktu segitu kok berasa kurang yah bagi aku. Haha
Kamu kangen aku gak?
Aku kangen kamu loh.
Waktu ngeliat kamu masih endut dan punya rambut panjang, aku yakin berapa tahun lamanya pun pasti masih bisa ngenalin kamu.
Nama kita sama.
Tapi nasib kita beda.
Disitu kadang aku mau cerita ke kamu. Terakhir ketemu. Kamu sedikit kalem. Atau mungkin aku yang semakin bawel?
Jadi, kapan kita nonton bareng?
Kapan kamu balik dari Jogja sana?
Kapan kamu mau ngabarin aku. Nge-smsin aku dengan kata-kata ga jelasmu.
Kapan kamu nyampah lagi di inbox ku?

Aku udah yakin banget kalo kamu udah dewasa sekarang.
Udah bukan jadi perempuan yang tergila-gila sama artis luaranmu itu. Meski yang aku liat emang masih begitu. Tapi kayanya kadar udah mulai berkurang ya?

Nis. Percaya gak kalo suatu hari nanti aku bakal jadi psikolog dan kamu jadi menteri kehutanan? Meski kita beda, tapi ada masa dimana kita ngerasa kalo pertemuan kita adalah alasan Tuhan ngasih tau kalo nama yang sama mungkin juga bisa ngebuat ikatan batin yang kuat. Haha gak nyambung ya.

Tapi diantara milyaran manusia yang ada di muka bumi ini. Aku yakin kamu jadi salah satu alasan yang ngebuat aku harus bersyukur karena udah pernah dikasih sahabat hebat kaya kamu.

Okeh. Lain waktu ku sambung ya. Jaaa."

Rabu, 17 Juni 2015

Candu, Setelah Kamu Tiba.

Kamu
Seperti kopi yang membuatku mencandu
Bagai vitamin yang setiap kali ku telan
Setiap pagi, saat mata ku terjaga

Kamu
Seperti rintik hujan yang menenangkan
Melebur menjadi satu bersama angin yang terhempas
Lembut
Dan begitu ku gilai

Kamu
Nama yang sering ku rapal
Wajah yang sering ku ingat
Tatap yang sering ku jaga
Makhluk yang selalu ku cinta

Kamu
Mengenalkanku pada rindu
Yang tak mau tahu
Yang tak perduli waktu
Dan membuatku memohon selalu

Kamu
Karya Tuhan
Yang selalu ku perbincangkan
Tak hentinya terfikir dibalik benak
Seperti tiap huruf yang ku ketik di setiap detik

Kamu
Bintang malamku.

Seminggu

Pagi yang berbeda
Seperti kamu yang ku percayai selalu setia
Meski pada nyata kamu berkali-kali mendua

Ku gantungkan sepucuk doa
Agar kelak kita bersama dan bahagia
Agar kelak ku yakini hati yang merana
Meminta, semoga saja cinta ini tak berbuah luka

Seminggu
Aku masih saja tetap menunggu
Berharap cemas agar kamu menjadi sosok yang dulu
Yang penuh kasih, kehangatan dan kepedulian selalu

Seminggu
Belum pupus juga perjuanganku kepadamu
Belum sirna juga air mata ini mendoakanmu
Belum usai juga penantian ini mempercayaimu

Jumat, 12 Juni 2015

Perbaikan Diri. Just it!



Pertama kali ngedenger temen sesenggukan, sedikit kaget, sedikit juga bingung. Manusia yang nyatanya keliatan tegar, baik-baik aja, oke-oke aja ternyata malah lagi dalam kondisi yang bobrok banget. Waktu dulu, sempet dibilang jadi manusia yang gak perdulian. Yang katanya selalu nyepelein perasaan orang lain, pintar bermain hati lalu meloncat kesana-kemari. Penggalau hebat, yang di dunianya selalu ada aja yang nyemangatin. Kalo dulu, cuman bisa diem. Lalu sering banget nanya ke diri sendiri, apa iya sih? Perasaan aku ini udah cukup banget kok ngurusin hidup orang, meski kadang aku suka mikir hal-hal yang gak mempengaruhi dunia yang aku jalanin gak mesti ditengok. Setelah makin dewasa, setelah aku sadar kalo aku itu manusia yang mestinya harus memanusiakan manusia. Aku berusaha gak lagi jadi orang yang banyak cerita, banyak curhat, banyak nangis dan kebanyakan hal-hal lain yang ngebuat orang-orang disamping aku terbebani. Kalo disuruh diem, ngamatin, gak ngomong kalo ditanya itu sih kesannya bukan aku banget! Tapi mau gimana lagi? Mesti ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Waktu kakak bilang, kalo kamu mau mendapatkan sesuatu kamu harus mau mengorbankan sesuatu. Gak jarang juga kakak bilang. Kamu itu harus rajin! Entah rajin apapun, pokoknya kamu harus rajin. Biar Tuhan itu baik sama kamu. Diwaktu-waktu tertentu kaya gitu cuman bisa ngelengos, pura-pura gak perduli. Banyak banget kata-kata dia yang nyelekit banget dihati. Gak jarang juga jadi hal yang ngebuat aku bebenah diri. Karena setiap kali ada hal-hal yang terbilang aneh, satu-satunya tong sampah terbaik yang gak bakal nyebarin cerita kemana-mana ya kakak. Perumpamaan tong sampah emang jelek banget, nyakitin banget, parah banget, tapi mau digimanain lagi? Coba pikir deh kalo gak ada tong sampah didunia ini, mau jadi apa tempat-tempat yang katanya paling indah di dunia itu? Setiap orang pasti butuh tong sampah didalam hidupnya.

Seseorang yang sebenernya cukup nyediain telinga dan nyediain mulut waktu ditanya doang. Sisanya rasa empati itu dikembangin, supaya orang yang cerita ke kita, nangis ke kita sampe jejeritan ke kita itu bener-bener terbantu. Karena gak tau kenapa akhir-akhir ini sering aja denger orang curhat, orang mewek, orang yang bilang gapapah-gapapah, tapi nge-apdet status galau didunia maya, orang yang biasanya gak bakal ngomong kalo ga ditanya justru cerita tanpa bisa di stop. Tapi sisa dari semuanya ada rasa bahagia didalam diri aku sebenernya. Perasaan bahwa aku masih dibutuhkan, dipercaya dan dicari.

Syukurku. Allhamdulillah.



Udah delapan belas nih. Gak kerasa kalo tiba-tiba aja aku udah gak bisa lagi pake seragam putih abu-abu, udah susah buat ngumpul bareng temen-temen, dan katanya juga sih udah mulai tau mana yang namanya cowok ganteng. Loh kalo itu sih udah dari dulu ya.